Maulid Nabi Muhammad Saw

Setiap tahun umat islam memperingati dan merayakan maulid Nabi Muhammad SAW , namun ada sekelompok yang mengkritik perayaan tersebut dan mereka mengatakan bahwa itu adalah bid’ah. Apakah hakikat perayaan itu ?
Sesungguhnya maulid (kelahiran) Nabi Saw yang mulia merupakan limpahan rahmat ilahi yang dihamparkan bagi seluruh manusia. Al Quran Al-karim mengungkapkan keberadaan nabi Saw sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rahmat ini tidak terbatas, ia meresap dalam pendidikan, pengajaran, dan pensucian manusia. Rahmat tersebut jugalah yang menunjukkan manusia ke jalan kemajuan yang lurus dalam lingkup kehidupan mereka, baik secara materi maupun maknawi.
Rahmat tersebut juga tidak terbatas untuk orang-orang di zaman itu saja, tetapi membentang luas sepanjang sejarah manusia seluruhnya. Alloh SWT berfirman:
“ Dan (juga ) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka “
(QS. Al- Jumu’ah (62):3)

Merayakan peringatan maulid Nabi Saw merupakan salah satu dari amal yang utama dan sebuah cara pendekatan diri kepada Alloh SWT. Karena keseluruhan peringatan tersebut merupakan ungkapan kebahagiaan dan kecintaan kepada beliau Saw. Dan cinta kepada Nabi Saw merupakan salah satu prinsip dasar dari prinsip-prinsip iman. Sebuah hadist shohih dari Nabi bahwa beliau bersabda :
“ Demi Dzat yang diriku berada di dalam genggaman-Nya, tidak beriman seseorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai dari pada orang tua dan anaknya.”
(HR. Bukhori)
Dalam hadist lain Beliau bersabda :
“ Tidak beriman seseorang dari kalian sampai aku lebih dicintai dari pada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya. “ (HR. Bukhori).
Ibnu Rajah berkata “ Cinta kepada nabi Saw termasuk prinsip-prinsip dasar iman. Cinta ini seiring dengan cintai kepada Alloh SWT. Alloh SWT yang menyandingkan keduanya dan Alloh SWT mengancam siapa saja yang lebih mengutamakan kecintaan kepada perkara-perkara lain yang sudah menjadi tabiat seperti kerabat, harta benda, dan tanah air atas kecintaan kepada Alloh dan Rosulnya. Alloh berfirman dalam Al Quran Surat At-Taubat (9): 24) yang kurang lebih artinya demikian:
“ Katakanlah : jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Alloh dan rosul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya.” dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
Ketika sahabat Umar r.a berkata kepada nabi Saw, “ engkau lebih aku cintai dari pada segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Beliau berkata, “ Tidak, wahai Umar. Sampai aku lebih kamu cintai dari dirimu sendiri. “ Umar berkata : “ Demi Alloh, Engkau sekarang lebih aku cintai dari pada diriku sendiri”. Kemudian Nabi berkata kepada Umar r.a : Sekarang, wahai Umar” (HR. Bukhori).
Merayakan Peringatan Maulid Nabi pada dasarnya adalah sambutan dan penghormatan kepada Beliau. Sambutan dan penghormatan terhadap Beliau merupakan perkara yang disyariatkan secara pasti (qoth’i), karena termasuk prinsip utama dari segala prinsip. Secara nalar kita bisa mencintai sesama manusia (baik itu keluarga, saudara, ataupun orang disekeliling kita) mengapa kita harus mempermasalahkan sebuah penghormatan terhadap beliau Nabi Muhammad Saw, yang sudah patut kita cintai dengan cara apapun asalkan tidak bertentangan dengan syariat islam itu sendiri. Bersambung…

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: