Tawakal

Sikap tawakkal sebagai ciri-ciri kokohnya keimanan seseorang kepada Allah SWT, adalah sikap pasrahnya yang kuat kepada keputusan Allah SWT dalam segala urusan hidupnya, baik dikala senang alaupun diwaktu susah. la yakin bahwa Allah SWT Maha Pengatur, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana dalam melakukan dan menentukan apa saja termasuk dalam hal memberikan rezeki kepada seseorang atau mencabutnya, memberikan kemenangan kepada suatu golongan atau menimpakan kekalahan kepadanya, mengangkat seseorang atau menduduki suatu jabatan atau mencopotnya dan menjatuhkannya.

Tawakkal merupakan bekal hidup seseorang yang beriman yang bisa menjadikan dirinya tabah dalam menghadapi apapun bentuk cobaan atau musibah yang menimpanya. Dengan sikap tawakkal, seorang mukmin akan merasa tenang dalam hidupnya. Bila ia mendapatkan kebaikan ia sadar bahwa Allah-lah yang memberikannya, untuk itu ia bersyukur. Bila ia ditimpa kesulitan atau mengalami musibah, ia sadar bahwa itu datang dari Allah sebagai batu uj ian baginya, dan ia yakin bahwa dibalik kesulitan dan musibah itu, pasti ada hikmah dan kemasalahatan yang dikehendaki oleh-Nya. Untuk itu ia akan bersabar dan bertawakkal.Firman Allah SWT :

“Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal “. (QS. At-Taubah [9]: 51).

Seorang mukmin dalam situasi apapun dan bagaimanapun kritisnya, ia akan tetap percaya akan ke-Mahakuasaan Allah SWT. la akan memohon pertolongan-Nya, maka dirinya akan tentram, jiwanya tenang, sikapnya tabah. Segala sepak terjangnya hanyabersandar kepadaAllah SWT. Sebab, tanpa pertolongan Allah SWT dan tanpa bantuan-Nya, tindakan apapun yang ia lakukan, sistem apapun yang ia jalankan, strategi apapun yang ia terapkan, tak akan banyak artinya, meskipun dikemas dengan rapih dan teratur. Untuk itulah Allah SWT senantiasa memperingatkan orang beriman untuk jangan terpukau dengan kekayaan, kepintaran, kecerdasan, kekuasaan karena semua itu tak akan banyak berpengaruh, bila tidak ada pertolongan atau bantuan dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (haipara mu ‘minin) di medanpeperanganyang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumiyang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah meminmkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orangyang beriman, dan Allah menunmkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir ” (QS. At-Taubah [9]: 25-26).

Tawakkal itu bukan sikap menyerah atau pasrah, atau bersikap masa bodoh atau ber-pangku tangan tanpa berusaha dan bekerja dengan keras. Tawakkal adalah usaha maksimal seorang mukmin sambil yakin akan adanya pertolongan Allah SWT. Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan orang-orangyang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka vada tempat-tempatyangtinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik uembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya “(QS. Al-Ankabuut [29]: 58-59).

Tertinggalnya posisi umat Islam dewasa ini, bila dibandingkan dengan umat lainnya, baik dalam percaturan perpolitikan secara makro dan berskala internasional, ataupun sektor perekonomian dan dibidang disiplin ilmu dan teknologi, tak lain karena kekeliruan sebagian kaum muslimin dalam menyikapi dan memahami arti tawakkal. Merekamenganggap bahwa tawakkal ialah sikap masa bodoh dan pasrah sepenuhnya kepada keputusan Allah SWT tanpa adanya usaha maksimal, tanpa berjuang, tanpa bekerja keras.

Mereka menyalah artikan konteks hadits Nabi Saw yang berbunyi, “Jika kamu bertawakkal kepada Allah dengan sepenuh tawakkal, maka Dia pasti akan memberimu rezeki, sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, ia pergi meninggalkan sarangnya dalam keadaan perutkosong (lapar), dan pulang kembali kesarangnya dalam keadaan penuh temboloknya (kenyang) “. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Padahal arti dan maksud dari hadits tersebut, bahwa pergi dan pulangnya burung itu, jelas dalam rangka usaha dan kerj a mencari rezeki. Jika burung itu hanya duduk dan diam saja di sarangnya, tanpa beranjak pergi dan terbang mencari rezeki, tentu makanan itu tak akan mungkin datang dengan sendirinya ke sarangnya.

Sikap tawakkal adalah pegangan dan pijakan paraNabi dalam berjuang menegakkan keadilan dan melaksana-kan ajaran Allah SWT. Kalimat yang selalu dikumandangkan dalam setiap menghadapi tantangan atau ancaman dari lawan atau musuh yang menteror atau mengintimidasi ialah, “Mengapa Kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkalitu berserah diri “. (QS. Ibrahim[14]:12).

Sumber : Buletin Mimbar Jum’at, No. 02 Th. XXIII – 9 Januari 2009

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: