Amalan yang ditinggalkan Nabi, apa dilarang dalam ajaran islam ?

sholat Banyak orang islam dari berbagai golongan yang ekstrim melarang berbagai amalan yang dilakukan oleh kaum muslimin dengan hujjah bahwa Nabi Muhammad telah meninggalkannya. Jadi apakah jika Nabi meninggalkan suatu amalan dan para sahabat tidak pernah melakukannya, maka ia secara otomatis menjadi dalil yang menunjukkan ketidakbolehan melakukannya ????
Berkenaan dengan pertanyaan ini, syaikh Al Allamah As-Syayid Abdullah bin Shiddiq Al- Ghummami telah menulis sebuah risalah yang diberi judul “ Husnu at-tafahum wa As-daraki li Mas’alati At-tarki “ memulainya dengan beberapa bait puisinya yang indah’
Meninggalkan suatu amalan bukan hujjah dalam syariat kita
Dan ia tidak bermakna pelanggaran ataupun kewajiban
Siapa yang melanggar suatu perbuatan dengan alasan Nabi meninggalkannya
Kemudian berpendapat itulah hukum yang benar dan tepat
Sungguh dia telah menyimpang dari keseluruhan dalil-dalil
Bahkan keliru dalam memutuskan hukum yang shahih
dan dia telah gagal

Tidak ada pelarangan kecuali pelarangan yang diiringi
Dengan ancaman siksa bagi yang melanggarnya
Atau kecaman terhadap suatu perbuatan
dan disertai dengan bentuk sangsi yang pasti
Atau lafazh mengharamkan untuk perkara tercela

Para ulama kaum muslimin masa dulu maupun masa belakangan, di timur sampai barat, telah sepakat bahawa hal meninggalkan itu bukanlah suatu prinsip atau konsep untuk menyimpulkan dalil secara tersendiri. Metode yang digunakan oleh para sahabat untuk menetapkan suatu hukum syariat itu menjadi wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram adalah mengikuti prinsip istinbath (penyimpulan hukum) dari dalil berdasarkan :
1.Adanya nash Al Quran
2.Adanya nash dariSunnah
3.Ijma’ (konsensus ulama) atas suatu hukum
4.Qiyas (silogis)
Para ulama berbeda pendapat pada beberapa kaedah pengambilan dalil untuk menetapkan hukum syariat, antara lain :
1.Pendapat sahabat
2.Sadd Adz- Dzari’ah
3.praktik penduduk madinah
4.Hadist mursal
5.Istihsan
6.Hadis dhaif , dan prinsip-prinsip lain yang dipandang para ulama. Dalam semua ini tidak tertera, hal “meninggalkan” sebagai sebuah prinsip dalam penerapan hukum.
Dengan demikian, hal meninggalkan secara tersendiri tidak menunjukkan suatu hukum syariat. Ini adalah kesepakatan di antara kaum muslimin.
Banyak bukti-bukti pendukung dan atsar dari para sahabat Ra bahwa mereka tidak memahami bahwa Nabi meninggalkan suatu perbuatan sebagai dalil diharamkannya perbuatan itu, bahkan tidak juga sebagai sesuatu yang dimakruhkan. Demikian yang dipahami oleh para ahli fiqih dari masa ke masa.
Wallohu a’lam bish-showab…

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: